Hari ini ada acara “Debat” di TvOne jam stgh 8 malem.
Bahasannya tentang demo mahasiswa yang sempet anarkis juni 2008.
Yang menarik itu narasumber ke-2 yang melibatkan 2 aktivis ITB 80an
Skip aja narasumber yang pertama.
Narasumber pertama ini lebih banyak debat kusir. Ga usah dibahas, toh esensi dari debat mereka tuh mungkin bisa dirangkum dan dipahami kurang dari beberapa menit saja. Tidak perlu berdebat secara 30 menit, dimana satu pihak berkeberatan dengan anarkisme dan di pihak lain berpura-pura mencari pembenaran atas anarkisme yang terjadi pada bulan juni.
(narasumber kedua pun sebenarnya tidak bisa ditarik kesimpulan apa-apa).
Narasumber kedua untuk orang yang KONTRA dengan demo mahasiswa bulan juni adalah Syahganda Nainggolan (alumni GD ITB). Uniknya, dia pernah mukulin polisi lho pada jamannya.
Narasumber kedua untuk orang yang PRO dengan demo mahasiswa bulan juni adalah Fadjroel Rahman (alumni KI ITB). Uniknya dia adalah non-him pada jamannya (dari perkataan Syahganda pada acara debat yang kira2 bunyinya. “Beda saya dengan Fadjroel adalah saya dulu ikut himpunan mahasiswa, dia ngga. Pada waktu itu yang ga ikut himpunan bisa dibilang B**** –disensor, kalo saya ga salah nangkep “banci”).
Saya bilang kedua-duanya tergolong kaum idealis utopis. Idealis karena terlalu ideal, semua sistem dianggap ideal, tidak ada derau dari luar sedangkan utopis karena sistem ideal itu tidak akan pernah terjadi. Bedanya, menurut pendapat saya –awam, ke-idealis-an Fadjroel Rahman itu terlalu akut. Tau dari mana? Ya kan abis nonton, iseng2 nanya ke bang wiki dong. Hasilnya cukup mencengangkan.
Ketika para aktivis berlomba-lomba masuk partai politik, Fadjroel memilih tetap di luar. Menyikapi pemilu 2004 Fadjroel justru sangat giat menulis dan mengampanyekan golput.
Kalo menurut saya, ini sih GILA! Orang kok mengkampanyekan golput. Ini sih bisa dibilang Idealis Pesimis.
Sedangkan untuk Syahganda, dia itu idealis utopis karena dia terlalu terpaku sistem secara teoritis. Penyampaian aspirasi -ini nih kata2 sakti mahasiswa- perlu dilakukan secara terstruktur. Mau gimana juga mahasiswa tetep mahasiswa, kalo mau nyalurin aspirasi ya sampaikan ke yang memang bertugas atau langsung aja ikut berpolitik (bukan mengatasnamakan mahasiswa).
Yang bikin gereget debat ini menurun jauh adalah di akhir acara ketika host acara tersebut meminta kesimpulan dari Syahganda dan Fadjroel, Fadjroel terlihat berapi-api (cenderung “terlalu” berapi-api ) sehingga ketika Syahganda mencoba menarik kesimpulan kata-katanya dipotong oleh Fadjroel secara terus-menerus (selalu mengingatkan tentang pasal 33 UUD45 secara berulang-ulang). Sepintas saya melihat kejadian ini mirip seperti seorang anak kecil yang merengek karena kemauannya tidak dituruti.
Selain itu pendukung masing-masing kubu juga tidak punya etika berdebat. Kubu yang pro demo juni 2008 (kebanyakan dari mahasiswa) terlihat tidak intelektual sama sekali!! Ketika narasumber berbicara, terdengar celetukan-celetukan bodoh yang membuat suasana seperti di debat warung kopi.
Dalam debat ini banyak kalimat-kalimat yang saya kira ga perlu keluar dari mulut seorang mahasiswa (yang katanya intelek). Kalimat seperti “Kita bakar mobil pelat merah karena itu simbol pemerintah” (Tapi saya sempat dengar ketika ada orang yang mempermasalahkan tindakan itu, ada celetukan “Itu bukan mahasiswa!!”. Lhoo, jadi mana yang benar?). Untuk kasus mobil pelat merah, apa para pembakar mobil itu ga pernah bayar pajak? Ko sampe tega2nya mobil hasil mereka bayar pajak sampe dibakar sendiri?
Kalimat laen adalah ketika di awal debat narasumber pro demo juni 2008 mengklaim bahwa demonya tertib, lalu disanggah dengan mengatakan “Anda membawa bom molotov” mereka menyangkalnya. Namun di akhir debat, salah seorang partisan kubu pro demo juni 2008 mengatakan bahwa fungsi dari bom molotov yang mereka bawa adalah untuk menjaga jarak antara demonstran dengan polisi. BODOH!!
————————————————————————————–
Cukup untuk bahas acara TVnya. Buat saya pribadi, BBM naek itu emang menyengsarakan rakyat! Tapi perlu ga sih tindakan-tindakan anarkis kaya gitu? Mereka-mereka yang mengatasnamakan rakyat benernya atasnama syapa sih? Kalo mereka berbuat anarkis untuk memaksakan kehendak, apa bedanya sama anak kecil yang belom bisa mikir? Minta ini harus dipatuhin, minta itu harus dipatuhin kalo ngga ngadat. Apa jadinya kalo sampe kerusuhan pecah lagi kaya 98? Saat itu rakyat sengsara, ketakutan, dan idupnya ga tenang! Ini yang mereka mau?
–just my 2 cents–

2 comments
Comments feed for this article
15 October, 2008 at 7:38 am
aoel
ciecie, ngga nyangka si ateng
27 May, 2009 at 2:25 am
herry winandi
wah baru tau gw lo nge-blog, mantab gan tulisannya!
-gagal pertamax-